Premiere & Diskusi Film "Ayla" "Menutup Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Meneruskan Gerakan Perlindungan Ayla"

Anak dan Remaja Rentan

Anak-anak adalah masa depan. Mereka perlu diasuh sehingga mampu menemukan jati dirinya, mengasah potensi-potensinya, serta memperluas pilihan-pilihan terbaik atas masa depannya. Pada mereka, kita bisa berharap tentang kebaikan umat manusia dalam membangun kehidupan dan mengelola sumber-sumber daya bumi yang amat terbatas ini. 

Berpijak pada persepsi di atas, kecakapan kita memberi perlindungan dan pengasuhan pada anak-anak, disertai dengan penyediaan arena-arena pengembangan diri yang tepat agar anakanak memiliki banyak pilihan untuk mengasah dirinya menjadi amat penting. Kita melihat, cukup banyak anak yang meraih prestasi dan mampu mengembangkan diri, karena mereka memiliki keluarga yang menyediakan rasa aman, nyaman, serta kesempatan yang cukup bagi anak-anak itu untuk memperkuat potensi dirinya. 

Sayangnya, tidak semua anak Indonesia memiliki ‘keberuntungan’ itu. Dalam perjalanan, kita menemukan bahwa cukup banyak anak-anak yang terabaikan, disisihkan, bahkan di stigma sehingga mendapat perlakuan kekerasan dari orang-orang dewasa maupun sebayanya. 

Data Kementerian Sosial (2016) menyatakan bahwa ada 4,1 juta anak telantar dan sebagian dari mereka adalah anak-anak yang membutuhkan perlindungan khusus. Generasi PINTAR selaku organisasi orang muda yang memperjuangkan hak dan kesejahteraan komunitas masyarakat marginal memiliki 3 fokus isu dalam memperjuangkan isu anak dan remaja rentan, diantaranya:

1) Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH) 

Anak adalah salah satu kelompok paling rentan dan paling sering menjadi korban dari lingkungan sekitar yang tidak ramah anak. Pada saat anak melakukan tindak pidana atau berkonflik dengan hukum, maka disebut Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH).

Kebijakan memasukan anak ke penjara otomatis menciptakan stigma ABH sebagai anak nakal dan jahat. ABH dipandang sebagai anak-anak berbahaya yang bisa menciptakan hal-hal buruk di lingkungan masyarakat. Cara berpikir ini memberikan peluang yang besar bagi penegak hukum untuk menangkap, menahan dan menghukum penjara terhadap anak. Tindakan ini bukan kabar baik buat masa depan ABH. Penting diingat, anak itu berbeda dengan orang dewasa. Anak-anak masih belum matang baik secara pikiran, hati dan jiwa.

2) Anak yang dilacurkan (AYLA) 

Anak yang dilacurkan adalah salah satu bentuk eksploitasi seksual terhadap anak. Keberadaannya diyakini telah menyebar di berbagai wilayah, tidak terbatas di daerah perkotaan namun juga sudah ditemukan di daerah pedesaan. Keberadaannya diketahui, kendati bersifat tersembunyi. Seberapa besar jumlah anak-anak yang dilacurkan, tampaknya belum tersedia data dan informasi yang memadai. 

Menurut Konvensi ILO No. 182 Tahun 1999, Anak yang dilacurkan dikelompokkan sebagai bentuk pekerjaan terburuk bagi anak yang harus dihapuskan. Konvensi Hak Anak memberikan jaminan agar anak-anak terlindungi dari semua bentuk eksploitasi dan penyalahgunaan seks, di antaranya penggunaan anak-anak dalam pelacuran atau praktek-praktek seksual lainnya yang tidak sah.

3) Anak Pekerja Migran (APM) 

Anak Pekerja Migran (APM) merupakan anak yang ditinggalkan orang tuanya menjadi pekerja migran. APM hidup tanpa pengasuhan orang tua dan digolongkan kepada kelompok anak dan remaja rentan. Dalam kehidupannya, APM kerap dianggap memiliki taraf hidup yang lebih baik karena kiriman uang dari orang tua mereka yang bekerja di luar daerah atau luar negeri. 

Kenyataannya, APM menghadapi banyak masalah seperti masalah pengasuhan, masalah pelayanan dasar, masalah kekerasan pada anak dan masalah eksploitasi sebagai pekerja anak, serta masalah pernikahan dini. Sebagai pekerja anak, banyak APM bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga yang ditinggalkan orang tua mereka. 

APM yang ditinggalkan orang tuanya menjadi pekerja migran biasanya diasuh dan dititipkan kepada keluarga pengganti (kakek, nenek, paman, bibi, atau salah satu orang tua ayah atau ibunya, bahkan tetangganya yang juga punya anak). Keluarga pengganti umumnya keluarga miskin dan tidak mampu memberikan perlindungan anak yang memadai. 

APM juga banyak mengalami perundungan. Mereka sering dirundung sebagai anak oleh-oleh, anak gendongan, anak unta, anak rerumputan, anak Pakistan, anak Arab dan anak Hongkong. Perundungan pada APM menjadikan banyak APM tidak percaya diri, terasing, terabaikan dan sulit mengakses pelayanan dasar seperti akta kelahiran, pendidikan dan kesehatan.

About the Author

Related Posts

%d bloggers like this: