Premiere & Diskusi Film "Ayla" "Menutup Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Meneruskan Gerakan Perlindungan Ayla"

Masyarakat Adat

Masyarakat adat adalah kelompok sosial yang mempunyai relasi kuat dengan alam. Alam adalah ruang hidup sekaligus kultural dan spiritual. Relasi dengan alam ini membentuk tata nilai, religiositas dan budaya masyarakat adat yang organik dan khas. 

Selain itu, ciri lain masyarakat adat adalah komunitas-komunitas ini sebagian besar populasinya berada pada wilayah-wilayah terpencil atau berada pada kawasan hutan.Cara hidup yang khas dan terpencil secara geografis mengakibatkan masyarakat adat terisolasi secara sosial. Cara hidup yang khas dan terpencil tersebut melahirkan prasangka negatif berupa stigma-stigma dari masyarakat yang lebih luas.

Dalam dimensi lebih luas tentang ikatan masyarakat adat dengan alam adalah dimensi magis-religius. Dimensi ini sering dimaknai sebagai kearifan lokal yaitu tata nilai, pengetahuan dan kebudayaan lokal. Sisi religius kearifan lokal sering juga dimaknai sebagai kepercayaan lokal atau agama adat (leluhur). Persoalan muncul ketika dimensi magis-religius berinteraksi dengan agama-agama mainstream. Kelompok sosial dominan yang masih menganggap agama adat dan kearifannya sebagai suatu “penyimpangan” dari agama mainstream, sehingga sering kali stigma muncul terhadap masyarakat adat sebagai kelompok menyimpang. Situasi ini diperkuat lagi dengan faktor arus konservatisme agama yang makin mengental dewasa ini.

Bila ditelusuri lebih dalam perihal eksklusi sosial masyarakat adat adalah situasi penolakan dan ostracism pada kelompok-kelompok masyarakat adat. Penolakan terhadap masyarakat adat, baik secara individu maupun kelompok, muncul karena identitas sosialnya tidak diinginkan oleh masyarakat luas. Sedangkan dalam konteks ostracism adalah pengabaian dalam relasi sosial terhadap individu dan kelompok masyarakat adat yang dianggap sebagai suatu penyimpangan budaya dominan.

Eksklusi sosial terhadap masyarakat berdampak juga pada akses mereka terhadap hak. Banyak kasus menunjukan bahwa masyarakat adat mengalami keterbatasan akses atas sumber daya dan layanan dasar akibat situasi eksklusi sosial yang mereka alami yang beriringan ketimpangan relasi politik . Selaras dengan itu, situasi eksklusi sosial terhadap masyarakat adat mengakibatkan mereka terisolasi dari sumber daya politik dan sosial. Isolasi sosial dan politik ini meminggirkan mereka dari setiap proses politik dan kebijakan di tingkat lokal.

Pada sisi lain, kerangka legal kita masih mempersyaratkan pengakuan masyarakat adat sebagai subjek hukum oleh otoritas Pemerintah Daerah. Persoalan eksklusi sosial masyarakat adat bersifat sosial sekaligus struktural. Sifat struktural tersebut terkait dengan muatan kebijakan dan implementasi beserta prosedur-prosedurnya yang potensial melahirkan deskriminasi, pelanggaran dan pengabaian hak oleh negara.

Sedangkan sifatnya yang sosial adalah deskriminasi masyarakat adat memperkuat isolasi sosial dalam relasinya dengan masyarakat luas.

About the Author

Related Posts

%d bloggers like this: