Bersama orang muda mewujudkan Indonesia yang inklusif. Daftarkan segera di Indonesian Youth Summit

Toleransi: Sebuah Kata yang Sederhana Namun Jarang Terlaksana.

Toleransi adalah kata yang sangat sederhana dan seringkali kita dengar dan jumpai di berbagai kampanye sosial. Kalian masih ingat tidak, Gens? Sewaktu duduk di bangku sekolah dulu kita sudah mempelajari tentang toleransi di pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN)? Pelajaran ini mengajarkan kita betapa pentingnya menghargai sesama, dan menumbuhkan rasa toleransi yang merupakan sikap adil, objektif, dan sikap yang tidak sekedar menghargai saja, melainkan sikap menerima, saling merangkul, dan bekerja sama di dalam suatu lingkungan walaupun terdapat perbedaan. Salah satunya adalah perbedaan dalam memeluk kepercayaan.

Namun, hingga saat ini kenyataannya masih banyak masyarakat diluar sana yang belum mendapatkan rasa aman dan nyaman dalam berwarga negara khususnya dalam memeluk keyakinan. Salah satu komunitas masyarakat rentan dan termarginalkan dalam cerita ini adalah Penghayat Kepercayaan.

Kali ini, Genpin berkesempatan untuk ngobrol langsung bersama Nanda Shelly Susanti, seorang perempuan yang saat ini aktif mengikuti program peningkatan kapasitas Youth Empowerment Spaces (YES) oleh Generasi PINTAR dan merupakan bagian dari Komunitas Penghayat Kepercayaan Budi Daya, yaitu organisasi bagi penganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Jawa Barat.

Berdasarkan data yang dilansir pada tahun 2019 oleh Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Indonesia sendiri memiliki kurang lebih 190 organisasi penghayat kepercayaan pusat, 1000 organisasi cabang, dan 3,14 persen populasi masyarakat Indonesia adalah penghayat kepercayaan yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia.[1]

Sekilas Pengetahuan tentang Komunitas Penghayat Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Budi Daya.

sumber : dokumentasi dari Budi Daya saat melaksanakan kegiatan satu sura

Budi Daya merupakan salah satu organisasi bagi orang yang menganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Jawa Barat. Kegiatan yang biasa dilakukan komunitas ini  adalah kegiatan-kegiatan religius bersama penghayat kepercayaan, seperti merayakan hari raya, memperingati 1 Mei, 17 September dan Satu Sura. 

Hal menarik yang diyakini dalam kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah kepercayaan ini tidak hanya menjalin hubungan baik antar sesama manusia tetapi juga menjalin hubungan baik dengan alam.

Penganut penghayat kepercayaan ini meyakini bahwa kita tidak bisa hidup atau ada tanpa alam, jadi kita harus memberikan timbal balik juga kepada alam yang sudah menyediakan sumber kehidupan kepada kita. Selain itu, para umat juga diajarkan bahwa sebagai manusia, kita harus memandang orang seperti diri kita sendiri, jadi jika ingin diperlakukan baik maka kita juga harus memperlakukan orang lain dengan hal yang serupa.

Diskriminasi di Lingkungan Pendidikan

Sebagai pemeluk aliran kepercayaan yang seringkali mendapat stigma berbeda, Nanda pertama kali menerima perlakuan diskriminatif dari salah satu tenaga pelajar sejak mengemban pendidikannya di Sekolah Dasar (SD). Karena perbedaan kepercayaan yang dianut Nanda, ia seringkali dicap sebagai seseorang yang “tidak berTuhan”. Mirisnya, perilaku diskriminatif yang diterima oleh Nanda justru dilakukan oleh tenaga pelajar.

Perlakuan diskriminatif ini pun berlanjut hingga Nanda menduduki bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Nanda diharuskan untuk mengikuti mata pelajaran salah satu dari lima agama yang diakui oleh konstitusi negara guna memenuhi standar administrasi sekolah. “Waktu SMP, saya mengalami kesulitan untuk mengakui keyakinan saya, kak. Karena waktu itu belum ada keputusan MK seperti sekarang, sehingga waktu itu saya diberatkan untuk mengikuti salah satu keyakinan yang diakui oleh negara.” ujar Nanda.

Saat Nanda meneruskan pendidikan ke Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) pada tahun 2017, ia sudah bernafas lega karena Mahkamah Konstitusi telah mengabulkan permohonan penghayat kepercayaan untuk mengakui kepercayaannya secara administrasi agar memiliki kedudukan yang sama di mata hukum. Keputusan ini dinyatakan pada bbc.com yang berbunyi  “pasal 61 ayat (2) dan Pasal 64 ayat (1) UU Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan sebagaimana telah diubah dalam UU Nomor 24 Tahun 2013 tentang Perubahan atas UU No 23 Tahun 2006 bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat secara bersyarat sepanjang tidak termasuk “kepercayaan.”” [2]

Akan tetapi, ekspektasi berbanding terbalik dengan apa yang nyatanya dialami oleh Nanda. Ia justru menerima perlakuan diskriminatif lebih buruk dibandingkan sebelumnya. Beberapa perlakuan yang diterimanya adalah dipojokkan dengan berbagai pertanyaan diskriminatif yang seharusnya tidak perlu ditanyakan di depan banyak murid, diberikan pemahaman bahwa keyakinan yang dianutnya salah, hingga memaksa salah satu keluarga Nanda untuk membaca dan menghafalkan kitab keyakinan lain.

“Seharusnya sebagai guru mereka memberikan teladan yang baik, yang dapat digugu dan ditiru.” Ujar Nanda. “…Bahkan hingga saya menduduki perguruan tinggi pun, mereka masih melakukan diskriminasi terhadap saudara saya.”

Merakit Toleransi bersama Nanda

Oleh karena perilaku diskriminatif dalam lingkungan sekolah yang dialaminya, Nanda berharap setiap manusia mendapatkan kesetaraan dengan saling bersosialisasi, menciptakan toleransi, dan mengeksistensikan diri kepada masyarakat bahwa kita semua memiliki beragam identitas. 

“Kita sebagai orang muda harus mencari relasi sebanyak-banyaknya dari latar belakang manapun, sehingga kita bisa mengenal bahwa perbedaan di dalam lingkungan masyarakat di Indonesia itu sangat beragam bukan hanya perbedaan kepercayaan tetapi hal-hal lain seperti suku, adat, ras, dan lain sebagainya. Sehingga kita tidak bisa memaksakan adanya kesamaan antar sesama. ” Ujar Nanda.

Nanda juga berharap tenaga pelajar yang melakukan praktik intoleransi dan diskriminatif terhadap dirinya tidak melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya terhadap peserta didik lainnya yang menganut aliran kepercayaan atau agama lain. Ia juga berharap adanya tindak lanjut dan perbaikan terhadap tenaga didik yang melakukan praktik diskriminatif lanjut agar  mendorong terwujudnya ekosistem pendidikan yang lebih baik, inklusif, dan ramah terhadap keberagaman.

Kisah Nanda diatas merupakan refleksi pahitnya diskriminasi yang dirasakan sebagai seseorang yang memiliki ragam identitas di dunia pendidikan. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan UU 20/2003 yang tercantum pada Pasal 4 ayat (1) tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwapendidikan di Indonesia diselenggarakan dengan prinsip demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa. 

Selain itu, tercantum pula salah satu kewajiban yang harus dimiliki seorang guru dan dosen pada UU 14/2005 Pasal 20ctentang Guru dan Dosen bahwa guru berkewajiban untuk bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran.[3]

Call to Action!

Sejatinya, sekolah harus dapat menjadi ruang aman dan nyaman untuk peserta didik terlepas dari apapun identitas yang dianutnya. Sebenarnya yang dibutuhkan agar kisah Nanda tidak berulang kembali terhadap teman-teman lain adalah dengan menanamkan dan belajar untuk menerapkan sikap toleransi antar sesama manusia. Hal sederhana tersebut terkadang masih juga diabaikan.

So, Gens! Sebagai aktor utama dalam memimpin perubahan, mari kita belajar untuk mengenal dan tidak menghakimi apa yang menjadi kepercayaan orang lain. Yuk, merakit toleransi bersama Nanda untuk mewujudkan Indonesia yang lebih inklusif dan semartabat! 

Gens, kalau kalian penasaran lebih jauh apa itu penghayat kepercayaan Tuhan Yang Esa, Budi Daya, kalian bisa cek Instagram @boedi_daja, lho! Jangan khawatir! Mempelajari bukan berarti kita menjadi salah satu bagian dari kepercayaan tersebut, tetapi itu adalah upaya awal untuk menciptakan ruang aman dan nyaman serta menjadi bentuk toleransi dasar yang kita miliki sebagai seorang manusia.

Febby Permata Oktavia – 7 Juli 2021 , 18:09 WIB

***


[1]https://bali.tribunnews.com/2019/08/07/jumlah-penghayat-kepercayaan-terus-bertambah-ini-sebaran-wilayahnya-di-indonesia, diakses pada 6 Juli 2021

[2] bbc.com. (2017, 8 November). Putusan MK ‘angin segar’ dan ‘memulihkan martabat’ Penghayat Kepercayaan. Diakses pada 06 Juli 2021, dari https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-41886935

[3]hukumonline.com. (2020, 21 September). Jerat Hukum Guru yang Mendiskriminasi Murid. Diakses pada 06 Juli 2021, dari https://m.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt5f510efe4ef5c/jerat-hukum-guru-yang-mendiskriminasi-murid

About the Author

Leave a Reply

Related Posts

%d bloggers like this: