Bersama orang muda mewujudkan Indonesia yang inklusif. Daftarkan segera di Indonesian Youth Summit

Merakit Kesadaran akan Pentingnya Pencegahan Kekerasan Seksual dari Papua bersama Alifah

Menurut Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) oleh Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (KOMNAS Perempuan), kekerasan seksual merupakan setiap perbuatan merendahkan, menghina, menyerang atau tindakan lainnya, terhadap tubuh yang terkait dengan nafsu perkelaminan, hasrat seksual seseorang, atau fungsi reproduksi, secara paksa, yang bertentangan dengan kehendak seseorang atau tindakan lain yang menyebabkan seseorang itu tidak mampu memberikan persetujuan dalam keadaan bebas, karena ketimpangan relasi kuasa, relasi gender dan/atau sebab lain, yang berakibat atau dapat berakibat penderitaan terhadap fisik, psikis, seksual, kerugian secara ekonomi, sosial, budaya, dan/atau politik.[1]

Kasus kekerasan seksual belakangan ini menjadi sorotan yang sangat memprihatinkan di Indonesia, karena selama jangka waktu 12 tahun terakhir terekam dalam Catatan Tahunan (CATAHU) 2020 yang dilaksanakan oleh KOMNAS Perempuan, kasus kekerasan seksual terhadap perempuan Indonesia meningkat hampir sebanyak 792% (hampir 8 kali lipat) atau tercatat 431.471 kasus pada tahun 2020. Bila dipaparkan dalam bentuk diagram, hasil persentase tersebut masih merupakan fenomena gunung es, yang dapat diartikan bahwa dalam situasi yang sebenarnya, kondisi perempuan Indonesia jauh mengalami kehidupan yang tidak aman dan nyaman. [2]

Mengenal Alifah lebih jauh yuk, Gens!

Maka dari itu, pada kesempatan kali ini Genpin mengajak Alifah Ayu Andiny untuk ngobrolin seputar “Merakit Kesadaran akan Pentingnya Pencegahan Kekerasan Seksual”. Alifah adalah salah satu aktivis dari program peningkatan kapasitas Youth Empowerment Spaces (YES) oleh Generasi PINTAR, orang muda Indonesia yang bekerja di salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Jayapura, yaitu Yayasan Abdi Sehat Jayapura (YASIN) yang berfokus pada isu kesehatan dengan melakukan advokasi dan sosialisasi terkait dalam penegakan kawasan tanpa rokok, khususnya di kota Jayapura, dan terlibat aktif selama 6 tahun sampai dengan sekarang dalam salah satu organisasi Anak Muda di Jayapura, yaitu Independent.

Youth Forum Papua(IYFP). Selain itu, Alifah juga memiliki jiwa semangat yang tinggi dalam memberdayakan masyarakat, khususnya masyarakat Papua dengan mengelola Taman Bacaan Masyarakat Kasih di Abepantai, Jayapura dengan tujuan ingin membantu meningkatkan literasi membaca untuk anak-anak di Papua agar anak-anak di Papua dapat maju.

sumber : dokumentasi dari narasumber

Mengenal Lebih Dekat dengan Independent Youth Forum Papua, Jayapura.

Independent Youth Forum Papua merupakan organisasi Anak Muda yang bergerak dalam memperjuangkan isu Kesehatan Seksual dan Reproduksi, Mencegah Kekerasan Seksual berbasis gender, Menghentikan Kehamilan Yang Tidak Diinginkan dan Mencegah HIV AIDS. Kehadiran IYFP diharapkan dapat membawa perubahan untuk generasi muda Papua yang berkualitas dan bertanggung jawab.

sumber : dokumentasi dari narasumber

Untuk merealisasikannya, IYFP melakukan kerja-kerja dengan melakukan Advokasi kepada pengambil kebijakan ditingkat daerah maupun nasional, melakukan peningkatan kapasitas kepada remaja di Papua terkait isu-isu yang menjadi fokus kami dan membuat kampanye yang bersifat online maupun offline. Kami mengutamakan prinsip “dari remaja, oleh remaja, untuk remaja.”

Bukan Hal yang Dapat Kita Sepelekan.

Kekerasan seksual bukanlah hal yang dapat disepelekan, terutama bagi korban kekerasan seksual. Sebagai aktivis IYFP yang seringkali menggelar kegiatan tentang pentingnya pencegahan kekerasan seksual, Alifah pun pernah berhadapan langsung dengan pelaku kekerasan seksual.

Kejadian tersebut Alifah alami saat ia hendak berangkat ke sekolah yang jarak tempuhnya kurang lebih 4-5 km. Ia biasanya menempuh perjalanan menggunakan angkutan kota (angkot).

“Aku naik angkot, terus itu ada beberapa penumpang. Aku duduk di belakang banget, paling ujung dekat jendela. Setelah itu, ada seorang bapak-bapak yang juga naik dan duduk disebelah aku. Gak berapa lama, bokong aku tuh ditusuk-tusuk.” Ujar Alifah. “Tapi saat itu tuh karna aku belum terinformasikan, belum teredukasi kan soal bagaimana melawan atau membela diri saat menghadapi hal seperti itu, jadi aku diam aja,” tambahnya.

Setibanya di sekolah, Alifah tak henti menangis dan menyalahkan dirinya sendiri karna hanya diam yang bisa ia lakukan saat itu. Akan tetapi, beruntungnya saat itu adanya kehadiran kakak kelas yang menemaninya dan mewakili Alifah untuk mengutarakan perasaannya. Mirisnya, ternyata perbuatan tersebut bukan kali pertama bagi pelaku. Kakak kelas yang sempat membantu Alifah pun pernah menjadi korban pelecehan seksual oleh pelaku yang sama.

Kasus kedua dialami Alifah saat ia duduk di bangku SMP Ia dan teman-temannya dihadapkan dengan bapak ojek yang sedang melakukan mastrubasi dengan memperlihatkan alat kelaminnya. Karna takut, Alifah dan teman-temannya tidak bertindak untuk mencegah bapak tersebut. Melainkan, melarikan diri merupakan hal pertama yang terlintas dalam benak mereka.

Aksi kekerasan seksual yang dialami oleh Alifah tidak terhenti sampai situ, Alifah mendapatkan pelecehan seksual yang ketiga kalinya.

“Aku mengalami pelecehan sejenis catcalling tapi bukan juga. Jadi dia disamping aku, tapi dia blg gini ‘kayanya tidurin kamu enak’, dia ngoceh di samping aku seperti itu. Mungkin dengan cara memancing aku, supaya aku ikut dia untuk melakukan hal demikian. Tapi disitu aku melakukan perlawanan.” Ujar Alifah. “Terus banyak banget teman-teman aku juga yang mengalami hal serupa. Dan itu memang buat aku kesel,” tambahnya.

Oleh karena perilaku pelecehan yang dirasakan Alifah selama ini, melalui Independent Youth Forum Papua dan aktivitas lainnya dalam memberdayakan orang muda Papua, Alifah berharap dapat mengurangi kasus kekerasan seksual dengan memberikan edukasi pencegahan kekerasan seksual, pentingnya pengetahuan seputar kekerasan seksual, dan bagaimana cara menghadapi pelaku kekerasan seksual jika kita berhadapan langsung dengannya. Sebab dampak bagi korban yang pernah mengalami kekerasan seksual tak dapat kita entengkan, mereka dapat merasakan trauma secara seksual, gangguan fungsi reproduksi, luka secara fisik dan mental, penyakit menular seksual, stigma dari masyarakat, kehamilan yang tidak diinginkan dan dalam beberapa kasus, adanya dorongan untuk bunuh diri pasca mengalami kekerasan seksual.[1]

Merakit Kesadaran dari Papua bersama Alifah.

Gens, perlu kita ketahui kalau bentuk kekerasan seksual terbagi menjadi 15 macam menurut Komnas Perempuan, yaitu pelecehan seksual, pemaksaan perkawinan, kontrol seksual, pemaksaan aborsi, prostitusi paksa, pemaksaan kontrasepsi, praktik tradisi, pemaksaan kehamilan, perkosaan, penyiksaan seksual, penghukuman bernuansa seksual, intimidasi seksual, perbudakan seksual, eksploitasi seksual.[1] Bahkan semua tindakan yang membuat kita merasa terancam dan tidak nyaman pun dapat kita kategorikan sebagai salah satu dari kekerasan seksual.

“Memang kita bisa katakan itu kekerasan seksual, ketika kamu merasa terancam dan kamu tidak aman saat berada di situasi tersebut. Sehingga pelecehan sekecil apapun itu, misalnya catcalling, menyentuh payudara, atau dirangkul, itukan salah satu pelecehan kecil yang kadang banyak orang terlalu menyepelekan.” Tegas Alifah.

Maka dari itu, Alifah dan Genpin bersama-sama merangkum beberapa hal penting yang perlu Gens ketahui untuk mencegah/melawan kekerasan seksual secara umum.

  1. Jangan Mudah Percaya

“Berbicara soal kepercayaan, terkadang kita, saking terlalu percayanya dan diiming-imingkan suatu hal sehingga membuka ruang untuk seseorang melakukan pelecehan.” Ujar Alifah. Sebab hal seperti ini sering terjadi dan tidak bisa dipungkiri di lapangan, karena nafsu seseorang tidak dapat kita kendalikan. Maka dari itu, sebaiknya kita jangan percaya terhadap siapa pun. Jika Gens merasa  sudah tidak aman, lebih baik jauhkan diri dari orang tersebut.

  1. Hindari Obrolan yang Berbau Pornografi

Obrolan yang berbau pornografi dapat menjadi awal dari perilaku pelecehan seksual. Sebab hal ini secara tidak langsung dapat membuat lawan bicara kita berpikir bahwa kita ‘membuka diri’ atau terbiasa dengan hal-hal yang berbau seksual. Sehingga, kita sebagai orang muda perlu membatasi candaan atau obrolan yang berbau pornografi.

  1. Berani Bersikap Tegas

Salah satu sikap yang perlu kita miliki saat menghindari tindak kekerasan seksual adalah bersikap tegas. Mengapa? Agar lawan bicara atau seseorang yang berada di dekat kita dan melakukan hal di luar batas dapat mengetahui bahwa kita tidak nyaman akan tindakan tersebut. Sehingga calon pelaku atau pelaku tidak melakukan hal yang lebih jauh lagi terhadap diri kita.

  1. Memakai Baju Sesuai Situasi dan Kondisi

Terkadang korban pelecehan seksual banyak disalahkan karena mereka menggunakan pakaian yang minim. Akan tetapi, hal tersebut merupakan persepsi yang salah, karena semua orang berhak untuk mengekspresikan diri bahkan melalui caranya dalam berpakaian. Selama mereka memakai pakaian pada tempatnya, contohnya saat berada di pantai setiap perempuan punya hak untuk berpakaian yang terbuka seperti memakai bikini atau berpakaian yang ketat.

“Menilai bahwa korbanlah yang salah karena berpakaian yang minim adalah persepsi yang harus kita singkirkan. Karena berbicara soal kekerasan seksual itu adalah pilihan dari otaknya pelaku. Meskipun saya berhijab dan teman saya tidak, tetapi kalau pelaku mengimajinasikan dirinya melakukan hubungan seksual dengan saya. Tetap saja pelaku akan mengincar saya.” Tegas Alifah.

Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri bahwa laki-laki banyak yang tergoda dengan perempuan yang berpakaian minim. Sehingga kita pun disarankan agar menjaga penampilan sesuai situasi dan kondisi. Tapi saran tersebut pun bukanlah keharusan, sebab kita punya hak untuk memakai pakaian yang membuat nyaman, bukan karna kehendak orang lain.

Gens, Alifah Punya Tips Apabila Kita Berada di Situasi dalam Berhadapan Langsung dengan Pelaku Kekerasan Seksual.

  1. Jangan menyalahkan diri sendiri

Pada umumnya, ketika korban mengalami tindakan kekerasan seksual, korban akan menyalahkan diri sendiri dibandingkan menyalahkan pelaku. Hal tersebutlah yang seharusnya dihindari pertama kali saat mendapatkan kekerasan seksual. Agar saat mengumpulkan barang-barang bukti dan menjelaskan alur cerita yang terjadi di lapangan kamu dapat berpikir secara jernih.

  1. Kumpulkan bukti sebanyak-banyaknya

Salah satu hal yang sangat diperlukan dan penting untuk diingat adalah mengumpulkan bukti sebanyak-banyaknya yang berkaitan dengan tindakan kekerasan seksual yang terjadi. Para saksi yang berada di tempat kejadian pun dapat menjadi salah satu bukti yang kuat untuk dilaporkan ke pihak berwajib, dengan minimal satu atau dua saksi.

  1. Teriak dan Mencari Perlindungan Terdekat

Jika tidak ada saksi di tempat, maka sebaiknya kamu mencari perlindungan di lingkungan sekitar dan teriak sekeras-kerasnya saat kamu mengalami kekerasan seksual di tempat umum.

  1. Perlawanan Fisik

Bila memungkinkan Gens pun dapat melakukan perlawanan fisik, misalnya dengan memukul kelamin pelaku. Pelajari dasar-dasar beladiri untuk melindungi diri dari orang-orang tidak bertanggung jawab. Selain itu, Gens juga bisa membawa semprotan berisi merica untuk berjaga-jaga jika tinggal di daerah yang rawan.

  1. Segera Melapor ke Pihak Berwajib

Sebaiknya jangan mengulur ulur waktu untuk melaporkan tindak kekerasan seksual yang kamu alami. Bila terlalu lama dikhawatirkan tidak dapat diproses oleh pihak berwajib. Pastikan kamu sudah mengumpulkan banyak bukti dan menceritakan alur yang sesuai di lapangan. Setidaknya dengan menjerat pelaku dengan hukuman yang setimpal dapat membantu menenangkan perasaan korban.

Call to Action!

Sejatinya, perlakuan yang sudah dilakukan pelaku bukanlah kesalahan korban sama sekali, melainkan nafsu dan pilihan dari otak pelaku. “Berdamailah dengan diri kamu dan berbenah diri agar bisa menjauhkan pikiran-pikiran negatif dari kejadian yang buruk itu. Dan memang gak akan menutup kemungkinan kalau kejadian tersebut akan menghantui kita sampai selama-lamanya. Tapi jangan sampai kejadian buruk itu membatasi diri kamu menjadi orang yang lebih baik, mencari jati diri, dan menjadi lebih happy lagi. Alangkah baiknya, kamu harus menyayangi diri kamu juga. Menerimalah, ikhlaslah, dan mari mulai berbahagia dengan cara kamu sendiri, bukan dengan cara orang lain.” Pesan dari Alifah kepada para korban.

Alifah juga berharap orang muda Indonesia dapat terlibat aktif dalam kegiatan positif untuk membangun diri, tidak menjadi pelaku untuk membuat seseorang merasa tidak bahagia baik itu dari perkataan maupun tindakan, tidak pesimis dalam menggapai apa yang telah ditargetkan selama ini, dan mengutamakan untuk mencintai diri terlebih dahulu sebelum mencintai orang lain.

So, Gens! sangat penting bagi kita untuk merangkul dan membantu teman-teman kita serta menghentikan stigma kepada para korban kekerasan seksual/anak yang dilacurkan (AYLA) karena kekerasan seksual itu adalah pilihan. Pilihan dari otak pelaku. Kalau kalian ingin belajar lebih jauh tentang pencegahan kekerasan seksual, kalian bisa cek Instagram @iyouthforumpapua dan @genpintar ya, Gens!

Lindungi diri dari segala sesuatu yang berbau kekerasan seksual dan segara laporan ke pihak berwajib bila mengalaminya. Ingat Gens, diam bukan solusinya.

Febby Permata Oktavia – 18 Juli 2021 , 18:15 WIB

***


[1] mappifhui.org. (2018, Oktober). MaPPI FHUI Tentang Kekerasan Seksual. Diakses pada 10 Juli 2021, dari

http://mappifhui.org/wp-content/uploads/2018/10/MaPPI-FHUI-kekerasan-seksual.pdf

[2] komnasperempuan.go.id. (2020, 6 Maret). Kekerasan Meningkat : Kebijakan Penghapusan Kekerasan Seksual untuk Membangun Ruang Aman Bagi Perempuan dan Anak Perempuan. Diakses pada 10 Juli 2021, dari https://komnasperempuan.go.id/uploadedFiles/webOld/file/pdf_file/2020/Siaran%20Pers%20Komnas%20Perempuan%20Catatan%20Tahunan%20(%20CATAHU)%202020.pdf

About the Author

Leave a Reply

Related Posts

%d bloggers like this: